Stress
adalah reaksi seseorang baik secara fisik maupun emosional (mental/psikis)
apabila ada perubahan dari lingkungan yang mengharuskan seseorang menyesuaikan
diri. Remaja bereaksi terhadap stress dengan cara yang berbeda-beda. Meskipun
stress dapat membantu menjadi lebih waspada dan antisipasi ketika dibutuhkan,
namun dapt menyebabkan gangguan emosional dan fisik. Stress saat pubertas
banyak terjadi, apalagi dengan adanya perubahan hubungan dengan teman sebaya,
tugas dan aktifitas sekolah yang banyak dan masalah keamanan di lingkungan
sekitar mereka (KEMENKES,2019).
Gejala
Stres
a. Gejala fisik
Beberapa
bentuk gangguan fisik yang sering muncul pada stres adalah nyeri dada, diare
selama beberapa hari, sakit kepala, mual, jantung berdebar, lelah, dan sukar
tidur.
b. Gejala Psikis
Sementara
bentuk gangguan psikis yang sering terlihat adalah cepat marah, ingatan
melemah, tidak mampu berkonsentrasi, tidak mampu menyelesaikan tugas, reaksi
berlebihan terhadap hal sepele, daya kemampuan berkurang, tidak mampu santai
pada saat yang tepat, tidak tahan terhadap suara atau gangguan lain, dan emosi
tidak terkendali.
Cara Mengatasi Stress
1. Relaksasi
Relaksasi atau berlatih untuk mengatur pernafasan yang dapat
dilakukan dengan cara melemaskan otot syarat seperti meditasi, yoga, latihan
pelemasan, pijat, sambil mendengarkan iringan musik lembut dan tenang
2. Olahraga
Olahraga secara teratur dapat menurunkan stress dan
meningkatkan kepercayaan diri, seperti berjalan-jalan santai sekitar 20-30
menit
3. Cerdas Mengatur Ambang Keinginan dan Rencana
Cita-cita dan harapan bahkan dapat menjadi daya hidup yang
mengagumkan tetapi seringkali stress muncul akibat ketidakmampuan menerima
kenyataan yang berbeda dengan keinginan dan harapan.
4. Manajemen Waktu
Waktu yang selalu terasa sempit, juga bisa menyebabkan
stress, tetapi manajemen waktu juga bisa dikelola seperti membuat jadwal yang
akan dilakukan, kerjakan tugas sesuai dengan waktunya, membuat jadwal waktu untuk
beristirahat dan bersantai.
5. Positive Thinking
Pikiran-pikiran negatif yang seringkali muncul dapat
menyebabkan stres, cemas maupun depresi obsesif. Cara untuk tetap berpikir
positif misalnya meyakinkan diri sendiri untuk tetap berpikir positif. Selalu
mengambil hikmah dari setiap kejadian karena sesuatu yang seseorang pikirkan
akan berhubungan langsung pada perasaan atau suasana hatinya dan pada
gilirannya juga mempengaruhi kinerja dan produktifitasnya.
6. Mencari Dukungan Sekitar
Berbicara tentang suatu persoalan, mengekspresikan perasaan
pada saat merasa kecewa dapat membantu menenangkan pikiran, maka dari itu
mulailah mencari teman dekat, saudara, atau keluarga yang dapat dipercaya untuk
mendengarkan cerita dari kita.
7. Mendengarkan Musik
Mencari lagu kesukaan dan bisa mendengarkannya sambil
tiduran. Lupakan semua masalah yang sedang dialami dan lebih fokus pada
musiknya. Musik bisa membantu otak menjadi lebih rileks. Selain mendengarkan
musik bisa juga bermain musik seperti bermain gitar untuk mengatasi stress.
Nah, sekarang musim COVID-19, Siswa belajar dari rumah dan tentu saja siswa mengalami stres dalam menghadapi kondisi tersebut. Bagaimana solusi kalian!! tulis dalam kolom komentar!!